\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Padahal, jika menyoal zat adiktif adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini diperkuat oleh argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentunya stigma pecandu ini sangatlah berbahaya. Pasalnya, antirokok mendapatkan angin segar untuk menyerang rokok dan perokok. Antirokok seolah memenangkan pertarungan opini publik, mereka menyatakan bahwa rokok adalah musuh publik dan bertentangan dengan dunia kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Padahal, jika menyoal zat adiktif adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini diperkuat oleh argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Melawan Label Adiktif Terhadap Perokok dengan Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentunya stigma pecandu ini sangatlah berbahaya. Pasalnya, antirokok mendapatkan angin segar untuk menyerang rokok dan perokok. Antirokok seolah memenangkan pertarungan opini publik, mereka menyatakan bahwa rokok adalah musuh publik dan bertentangan dengan dunia kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Padahal, jika menyoal zat adiktif adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini diperkuat oleh argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entah sejak kapan rokok dikategorikan sebagai produk adiktif, tetapi jika kita mau membuka ulang berbagai literatur, penetapan adiktif kepada rokok mulai masif digencarkan di era 90an. Atau lebih tepatnya ketika industri kesehatan sedang gencar mendeklarasikan perang terhadap industri rokok. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melawan Label Adiktif Terhadap Perokok dengan Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentunya stigma pecandu ini sangatlah berbahaya. Pasalnya, antirokok mendapatkan angin segar untuk menyerang rokok dan perokok. Antirokok seolah memenangkan pertarungan opini publik, mereka menyatakan bahwa rokok adalah musuh publik dan bertentangan dengan dunia kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Padahal, jika menyoal zat adiktif adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini diperkuat oleh argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok ditetapkan sebagai produk yang mengandung zat adiktif. Adiktif berasal dari kata addict, yang artinya ketergantungan. Dalam KBBI, adiktif adalah sesuatu yang bersifat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya. Penetapan rokok sebagai produk adiktif  ini berimbas kepada perokok yang distigmakan sebagai pecandu.
<\/p>\n\n\n\n

Entah sejak kapan rokok dikategorikan sebagai produk adiktif, tetapi jika kita mau membuka ulang berbagai literatur, penetapan adiktif kepada rokok mulai masif digencarkan di era 90an. Atau lebih tepatnya ketika industri kesehatan sedang gencar mendeklarasikan perang terhadap industri rokok. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melawan Label Adiktif Terhadap Perokok dengan Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentunya stigma pecandu ini sangatlah berbahaya. Pasalnya, antirokok mendapatkan angin segar untuk menyerang rokok dan perokok. Antirokok seolah memenangkan pertarungan opini publik, mereka menyatakan bahwa rokok adalah musuh publik dan bertentangan dengan dunia kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Padahal, jika menyoal zat adiktif adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini diperkuat oleh argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pernahkah terdapat kasus seorang perokok kejang-kejang akibat tidak merokok selama jam puasa? Tidak pernah ada bukan? Lalu kenapa perokok dan rokok dilabeli adiktif?
<\/p>\n\n\n\n

Rokok ditetapkan sebagai produk yang mengandung zat adiktif. Adiktif berasal dari kata addict, yang artinya ketergantungan. Dalam KBBI, adiktif adalah sesuatu yang bersifat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya. Penetapan rokok sebagai produk adiktif  ini berimbas kepada perokok yang distigmakan sebagai pecandu.
<\/p>\n\n\n\n

Entah sejak kapan rokok dikategorikan sebagai produk adiktif, tetapi jika kita mau membuka ulang berbagai literatur, penetapan adiktif kepada rokok mulai masif digencarkan di era 90an. Atau lebih tepatnya ketika industri kesehatan sedang gencar mendeklarasikan perang terhadap industri rokok. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melawan Label Adiktif Terhadap Perokok dengan Berpuasa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Tentunya stigma pecandu ini sangatlah berbahaya. Pasalnya, antirokok mendapatkan angin segar untuk menyerang rokok dan perokok. Antirokok seolah memenangkan pertarungan opini publik, mereka menyatakan bahwa rokok adalah musuh publik dan bertentangan dengan dunia kesehatan.
<\/p>\n\n\n\n

Padahal, jika menyoal zat adiktif adiktif, rokok tidaklah menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan. Hal ini diperkuat oleh argumen para peneliti di British Medical Journal yang mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Pembuktian yang paling nyata bahwa rokok tidaklah menyabkan kecanduan dapat dilihat dari kesanggupan perokok untuk berpuasa selama 13 jam lamanya selama 30 hari di bulan Ramadan.
<\/p>\n\n\n\n

Ketika Ramadan, perokok membuktikan bahwa 13 jam tanpa rokok ternyata tidak memberikan efek apapun. Maka, masihkah relevan jika rokok dikategorikan sebagai adiktif?<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melarang Iklan Rokok Selama Bulan Puasa Adalah Pelanggaran Regulasi <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kalau memang rokok adalah adiktif, perokok sudah pasti tidak akan kuat menahan hasrat untuk menghisap emas hijau tersebut. Sebab zat adiktif merupakan obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerja biologi tertentu pada tubuh serta menimbulkan ketergantungan yang sulit dihentikan. Jika penggunaannya dihentikan, maka dapat memberi efek lelah atau sakit luar biasa pada orang yang terbiasa mengonsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu, pernahkah kita melihat ada perokok yang kejang-kejang atau mendapat efek-efek tertentu layaknya pecandu narkoba ketika berpuasa selama 13 jam lamanya?<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak. Perokok tetap bisa beraktivitas normal seperti hari-hari biasanya, meskipun sedang berpuasa. Banyak juga perokok yang memutuskan untuk berhenti merokok pascaberpuasa 30 hari penuh di bulan Ramadan. Dan berhenti merokok tidak sesulit yang dibayangkan. Tinggal bulatkan niat, maka selesai perkara.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Rokok Sebagai Penanda Sakit dan Sembuh<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Perokok tidak harus melakukan terapi atau rehabilitasi ketika memutuskan berhenti merokok. Lihat saja apakah klinik berhenti merokok yang diinisiasi oleh antirokok itu ramai dikunjungi perokok? Sepi, Bos!!!
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya kata adiktif yang dilabelkan kepada rokok itu harus ditinjau ulang berdasarkan fakta dan kajian yang komprehensif. Peninjauan tersebut bersifat terbuka, publik harus menyaksikannya, dan semua pihak harus dilibatkan (dalam hal ini perokok dan stakeholder Industri Hasil Tembakau). Tujuannya agar tak ada kepentingan yang disembunyikan dari penetapan adiktif kepada rokok.
<\/p>\n\n\n\n

Yang terakhir, untuk para perokok yang sedang berpuasa, mari kita tunjukan perlawanan menolak labeling perokok adalah pecandu. Caranya? Berpuasalah dengan khidmat selama 30 hari lamanya. Sesungguhnya itulah cara terbaik kita dalam melawan untuk saat ini.
<\/p>\n","post_title":"Puasa Adalah Pembuktian Bahwa Rokok Tidaklah Adiktif","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"puasa-adalah-pembuktian-bahwa-rokok-tidaklah-adiktif","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-07 05:02:59","post_modified_gmt":"2019-05-06 22:02:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5696","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5563,"post_author":"883","post_date":"2019-03-22 09:44:06","post_date_gmt":"2019-03-22 02:44:06","post_content":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:08:32","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:08:32","post_content_filtered":"\r\n

Kretek sebagai benda budaya tak semata memiliki dimensi historis tapi juga kekhususan kultural. Ini adalah sistem pewarisan dan pengetahuan yang menjadikannya, dan terutama melambangkan sebuah corak identitas khas dari Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Beragam kebudayaan yang terekspresikan oleh masyarakat-masyarakat Indonesia merepresentasikan kretek sebagai unsur simbolik terpenting di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejumlah praktik simbolik kretek terhimpun sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

AMONG TEBAL<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim tanam tembakau oleh para petani Temanggung, khususnya di desa Legoksari, kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dipimpin kepala urusan agama desa dan berlangsung di tengah tegalan pada pagi hari sebelum penanaman bibit tembakau, sajian yang dihidangkan sekurangnya menunjukkan penghayatan simbolisme seperti tumpeng ungu, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng tulak, ingkung ayam cemani, bibit tembakau 11 batang, dan bendera-bendera uang kertas berjumlah Rp 110.000.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

KENDUREN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istilah umum bahasa Jawa untuk ritual selamatan. Di kalangan petani Temanggung, Jawa Tengah, dikenal kenduren-kenduren khusus terkait aktivitas tanam tembakau, yakni kenduren lekas macul, satu upacara sebelum melakukan pencangkulan lahan yang akan ditanami tembakau dengan mengundang tetangga dan tokoh desa; kenduren lekas nandur, sebelum siap tanam yang dihadiri keluarga terdekat; kenduren wiwit pada saat lahan siap tanam; kenduren membuat jenang khusus untuk tembakau srintil; dan terakhir kenduren membuat larapan atau anjap-anjapan, penyangga alat penjemur tembakau (disebut rigen di Temanggung atau widig di Boyolali atau sasag untuk petani Sumedang dan Garut).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

MAPOPUTI CENGKE\u2019<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu jenis tarian dari Sulawesi Tengah yang ditampilkan saat berlangsung panen cengkeh sebagi ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Gerakan tarian ini mengambarkan kelincahan seorang gadis saat memetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SAJEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebagai persembahan dalam upacaraupacara tradisional di mana kretek salah satu unsur bahan persembahan itu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

SUGUHAN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di masyarakat Bali di mana kretek menjadi unsur persembahan untuk roh jahat di tempat-tempat yang dianggap wingit supaya tak mengganggu manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI KRETEK <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kudus yang terilhami proses pembuatan kretek dari melipat dan membatil hingga mengepak kretek. Para penari memakai kostum caping cole, konde ayu, suweng markis, dan pernak-pernik berupa kalung susun renteng 9 yang melambangkan wali sanga serta bros berjumlah 5 buah mewakili rukun Islam. Tarian ini diciptakan Endang dan Supriyadi, pegiat Sanggar Tari Puringsari pada pertengahan 1885.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

TARI LAHBAKO <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember berupa gerakan cara mengolah tembakau dari menanam, memetik, hingga pengolahannya di gudang tembakau, diciptakan pada 1985 atas arahan Bagong Kussudiardjo, maestro seni tari asal Yogyakarta. Lahbako artinya olahtembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

WIWITAN<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu ritual yang menandai awal musim panen terutama oleh kalangan petani tembakau di Temangggung, kendati dapat dijumpai di wilayah lain. Dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memerhitungkan hari yang dianggap baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berbeda dengan among tebal pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saatsenja atau petang hari. Dipimpin kaur agama, perangkat upacara menuju ladangtembakau dari permukiman dengan membawa sesajen biasanya berupa tujuhtumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

CETHE <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Satu leksikon Jawa, untuk menggambarkan aktivitas menyelep bubuk kopi halus di atas sebatang kretek dalam pelbagai motif untuk dinikmati sebagai bentuk kreativitas dan pergaulan sosial saat di rumah, pos ronda, hingga kedai kopi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

JAGONG BAYEN <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebuah tradisi Jawa mengunjungi tetangga atau kenalan yang dikaruniai momongan atau bayi yang baru lahir. Biasanya aktivitas kultural ini berselang hingga bayi berusia 35 hari dan tuan rumah menyajikan kretek atau tembakau berikut isiannya, diletakkan di atas piring bersama minuman dan makanan lain sebagai suguhan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek dan Integrasi Kebudayaan<\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Secara historis, Kudus sebagai kota kelahiran dan tempat tinggal inventorkretek, disebut dan terkenal sebagai Kota Kretek. Penamaan kota ini bisa dijumpai di pintu masuk wilayah Kudus berbatasan Kabupaten Demak,selain di jantung kota di alun-alun simpang tujuh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kudus adalah lokus budaya masyarakat yang mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat kretek. Ia juga menumbuhkan kreativitas-kreativitas baru bagi masyarakat Kudus maupun masyarakat di luar Kudus seperti membuat brand tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Efek-ganda dari kretek menumbuhkan kreasi desain gambar dan iklan, pedagang, sablon pembungkus, hingga pembuat papier, dari hulu hingga hilir yang terpaut erat dalam (industri) kretek. Kaitan tradisi dan budaya masyarakat Kudus dengannya terlihat dalam rutinitas setiap hari.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejak pagi buta, kaum perempuan berduyun-duyun meninggalkan rumah untuk membuat kretek, dari usia dewasa sampai usia senja. Kudus bertahan dan dihidupi oleh ekonomi kretek<\/a> sejak era kolonial hingga kini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dalam dimensi lain, kretek juga telah menjadi nilai budaya dan sosial bagi masyarakat yang kehidupannya terkait dengannya. Ia tak hanya terkonsentrasi di Kudus melainkan pula di sentra-sentra utama bahan baku. Di sentra utama budidaya tembakau di Temanggung, Jawa Tengah, misalnya, pola-pola pengetahuan yang meresap dalam tataniaga kretek terus disuburkan melaluisejumlah leksikon kultural.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Jember, misalnya, muncul kreasi-cipta tarian kretek. Selain itu, di Minang dan sejumlah daerah lain di Indonesia, kretek merembes dalam ekspresi kultural dan oral, yang menyiratkan dunia perlambang antara alam materi dan spiritual, dan nilai-nilai yang merujuk pada sikap dan tata perilaku dalam pergaulan sosial. Pada masyarakat agraris di Jawa, misalnya, kretek menyiratkan dunia simbolik melalui upacara-upacara. Artinya, dalam takaran budaya, sudah terlepas dari fungsinya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5556,"post_author":"883","post_date":"2019-03-19 08:37:43","post_date_gmt":"2019-03-19 01:37:43","post_content":"\n

Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial.
<\/p>\n\n\n\n

Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi), mengalami inovasidan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengetahui Ragam Jenis Cengkeh pada Produk Kretek<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Kretek adalah produk khas dari Indonesia. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Pengetahuan kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia. [Lihat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, diteken di Paris, 17 Oktober 2003, diratifikasi Indonesia pada 2007]
<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek, dengan kata lain, bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi lisan, kesenian dan ritual. Selain itu mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi unggulan, dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat Indonesia (Hanusz, 2000).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek Sebagai Kebudayaan<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan<\/p>\n\n\n\n

untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).
<\/p>\n\n\n\n

Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan- aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).
<\/p>\n\n\n\n

Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusiadalam berkreasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan:ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis.<\/p>\n\n\n\n

Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak,berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
<\/p>\n\n\n\n

Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupanmanusia, dapat dikemukakan bahwa kretek adalah ekspresi yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan sistem pengetahuan yang unik.
<\/p>\n\n\n\n

Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisiritual, kesenian, mitologi dan resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia.
<\/p>\n\n\n\n

*Tulisan ini merupakan Naskah Pendaftaran Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi di tahun 2014<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-sebagai-warisan-budaya-tak-bendawi-1","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-19 08:37:51","post_modified_gmt":"2019-03-19 01:37:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5556","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5492,"post_author":"877","post_date":"2019-02-27 05:44:11","post_date_gmt":"2019-02-26 22:44:11","post_content":"\n

Bahan kimia lain yang ditemukan dalam rokok elektrik dapat meningkatkan peradangan pada lapisan pembuluh darah. Itu dapat menyebabkan pembentukan gumpalan, menyumbat arteri dan menyebabkan stroke, kata Dr. Paul Ndunda. (Sumber)<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Banyak kalangan menganggap, rokok elektrik atau sering dikenal dengan vape adalah alternatif sehat meski tetap merokok. Asumsi rokok elektrik lebih sehat sering digaungkan dan kali pertama ia muncul dengan tujuan menghentikan kebiasaan rokok konvensional. Sehingga banyak konsumen yang akhirnya berpindah haluan dari rokok konvensional ke rokok elektrik.<\/p>\n\n\n\n

Ternyata, hasil riset Dr. Paul Ndunda berkata lain. Vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakit kardiovaskular.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Masa Depan, Rokok Elektrik, dan Semangat Alternatif yang Sia-Sia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Penjelasan lain mengenai apa itu penyakit kardiovaskular dapat dilihat dan ditelusuri di wikipedia.org, yaitu penyakit kardiovaskular yang umum adalah:penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease<\/em>) (IHD), stroke, penyakit jantung akibat tekanan darah tinggi (hypertensive heart disease<\/em>), penyakit jantung rematik (rheumatic heart disease<\/em>) (RHD), pembesaran aorta<\/em> (aortic aneurysm<\/em>), cardiomyopathy<\/em>, atrial fibrillation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n

Kembali pada pernyataan Dr. Paul Ndunda, bahwa vape mempunyai efek samping negatif bagi penikmatnya. Dijelaskan potensi vapers (julukan bagi penikmat vape) terjangkit penyakit kardiovaskular sangat tinggi dua kali lipat dibanding dengan orang yang bukan penikmat vape. <\/p>\n\n\n\n

Hasil riset yang dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika. Dalam pengumpulan datanya dilakukan terhadap 400.000 peserta Sistem Surveilans Faktor Risiko Perilaku. <\/p>\n\n\n\n

Riset ini, sebagai lanjutan dari hasil riset yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain tentang vape. Untuk itu, karena riset terbaru, sudah selayaknya menjadi jawaban tentang keberadaan vape yang selama ini terjadi debatable apakah lebih menyehatkan atau tidak. Dan sudah pasti dalam membangun paradigma riset, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika berlandaskan adanya debatable tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik\u00a0\u00a0<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hasil riset di atas, memperjelas bahwa keberadaan vape banyak dampak penyakit yang ditimbulkan. Inti riset di atas, memperjelas bahwa vape bukan rokok yang menyehatkan.<\/p>\n\n\n\n

Jika ada yang menganggap bahwa merokok vape lebih menyehatkan, sudah terbantahkan dari hasil riset  Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi jika anggapan tersebut hanya asumsi, tidak berdasarkan riset, maka hal tersebut tidak bisa sebagai landasan informasi atau sebagai dasar penentuan hukum dan kebijakan. <\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh yang terbantahkan dari hasil riset di atas adalah, keputusan bagian Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU dilakukan pada Senin tanggal 18 Februari 2019, dengan agenda bedah buku tentang \u201cKebijakan Produk Tembakau Alternatif di Indonesia\u201d di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. Dilansir dari detiknews<\/em>, hasil bedah buku tersebut mendukung inovasi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik (vape). Asumsi dasarnya adalah mendorong pengurangan risiko kesehatan, dengan bersandar hasil riset terdahulu tentang produk tembakau alternatif.<\/p>\n\n\n\n

Salah satunya memakai dasar hasil riset Public Health England, dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris pada 2018 berjudul 'Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018', penggunaan produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan 95 persen lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Sedangkan riset yang terbaru dilakukan Dr. Paul Ndunda ini bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) sangat membahayakan bagi penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, keputusan Lakpesdam PBNU di atas, perlu dikaji ulang, dan tidak bisa sebagai rujukan dan referensi kuat guna mendukung pengembangan rokok elektrik di Indonesia umumnya, dan khususnya dikalangan warga NU. <\/p>\n\n\n\n

Alasannya; pertama; dari dulu keberadaan rokok elektrik (vape) masih debatable, dan kemudian hanya hasil riset Public Health England yang diambil sebagai referensi. Kedua, hasil riset terbaru, menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) sangat berisiko terjangkit penyakit kardiovaskular. Ketiga; hukum rokok konvensional bagi Ulama\u2019 dari dulu hingga sekarang masih terjadi ketetapan diperbolehkan. Keempat; keberadaan rokok elektrik dengan penggunaan produk tembakau alternatif, akan membunuh perekonomian petani tembakau dan cengkeh yang ada di Indonesia. Seharusnya, keberadaan mereka terlindungi oleh NU, karena mayoritas petani tembakau dan cengkeh di Indonesia adalah warga NU. Kelima; produk rokok konvensional berupa kretek adalah asli Indonesia dan perkembangannyapun di daerah basis NU. Rokok elektrik (vape) adalah produk luar yang tujuannya menggerus keberadaan rokok kretek. NU harusnya melindungi produk pribumi, bukan sebaliknya, karena giroh pendirian NU adalah nasionalisme. <\/p>\n\n\n\n

Menjadi rancu, dimana acara yang dilaksanakan Lakpesdam PBNU adalah bedah buku, namun ujung ujungnya bahasan acara tersebut mengkritisi pungutan pemerintah terhadap cukai produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape). Apalagi alasan yang dibangun adalah produk tembakau alternatif (vape\/rokok elektrik) merupakan hasil dari pengembangan teknologi dan bernilai positif.<\/p>\n\n\n\n

Jelas-jelas rokok elektrik (vape) adalah produk luar, sudah sewajarnya harus membayar pajak, dan harus tinggi. Memang, rokok elektrik dari hasil inovasi pengembangan teknologi, tapi nyatanya berisiko terjangkit penyakit sangat besar. Darimana nilai positifnya?.Untuk itu, Lakpesdam PBNU harus mengkaji lebih dalam lagi tentang produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik (vape) dengan mempertimbangkan hasil riset Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, dan mempertimbangkan keberadaan petani tembakau juga cengkeh, dalam rangka memperkuat Nasionalisme.<\/p>\n","post_title":"Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kata-siapa-lebih-sehat-perokok-elektrik-berisiko-terjangkit-penyakit-kardiovaskular","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-27 05:44:19","post_modified_gmt":"2019-02-26 22:44:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5492","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5454,"post_author":"922","post_date":"2019-02-16 06:00:46","post_date_gmt":"2019-02-15 23:00:46","post_content":"\n

Belajar dari sejarah panjang pasang-surut cengkeh sejak masa penjajahan\ndulu, pertanyaan ini sama sekali tak bisa dijawab hanya dengan logika pasar\natau nalar ekonomi murni. Kebijakan politik sangat pekat mewarnai nasib benda\nyang pernah menjadi rebutan berbagai bangsa dan kalangan ini.<\/p>\n\n\n\n

Dan, itulah yang sangat mencengangkan pada sikap pemerintah negeri ini. Sejak dulu, kebijakan pemerintah nyaris hanya memperlakukan cengkeh tak lebih dari sekadar barang jualan yang hanya diperhatikan jika harganya memang memungkinkan untuk memungut cukai, retribusi atau pajak lebih besar.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n

Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n

Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n

Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n

Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n

Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n

Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n

Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n


\n\n\n\n

[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n

[2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n

[3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};