[1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong> [1]<\/a> Dr. Dominggus Male, pers.comm,, 28 Agustus 2013.<\/p>\n\n\n\n [2]<\/a> Dr.\nSahril Muhammad, wawancara tanggal 16 September 2013, di Ternate<\/p>\n\n\n\n [3]<\/a> Wawancara tanggal 5 September 2013, di Desa\nWioi.<\/p>\n","post_title":"Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti (2)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-dulu-kini-dan-nanti-2","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-02-15 21:55:39","post_modified_gmt":"2019-02-15 14:55:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5454","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":4},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Minat dan perhatian mereka pada benda ini hanyalah pada besarnya\nrente ekonomi yang dapat mereka peroleh. Sampai sekarang pun, nyaris tak ada\nsama sekali kebijakan bersengaja dan berpandangan jauh ke depan untuk\nmelindungi jenis tanaman yang --oleh keberadaan muasal dan sifat\nalamiahnya\u2014justru sangat patut menjadi salah satu \u2018warisan alam dan budaya khas\nNusantara\u2019.<\/p>\n\n\n\n Sama sekali tak ada konservasi, proteksi atau subsidi. Bahkan\npembinaan yang sangat elementer pun alpa, misalnya, dalam hal kebutuhan\nperbaikan teknis budidaya, perluasan lahan, penyediaan bibit, sampai ke\npenyediaan prasarana dan sarana khusus untuk kelancaran tataniaga yang lebih\nmenguntungkan bagi petani lokal.<\/p>\n\n\n\n Apalagi dalam hal pengembangan. Para anggota tim ekspedisi cengkeh ini menemui kesulitan, jika tak ingin disebut gagal, menemukan para peneliti dan pakar khusus di bidang percengkehan, bahkan di kampus-kampus perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian di jantung daerah penghasil cengkeh utama itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n Kecuali segelintir peneliti dan pakar sejarah ekonomi dan politik\nrempah-rempah secara umum, sumber-sumber informasi di Universitas Hasanuddin di\nMakassar, Universitas Tadulako di Palu, Universitas Sam Ratulangie di Manado,\nUniversitas Khairun di Ternate, dan Universitas Pattimura di Ambon,\nmenggelengkan kepala jika ditanyai tentang keberadaan pakar khusus mengenai\ntanaman cengkeh atau pala.<\/p>\n\n\n\n Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura di Ambon[1]<\/a>\njuga mengakui belum ada seorang pun rekannya, termasuk dirinya sendiri, yang\nsecara terus-menerus dan tekun melakukan riset dan pengembangan tanaman\ncengkeh.<\/p>\n\n\n\n Para mahasiswa Fakultas Pertanian --yang umumnya semakin berkurang\njumlahnya dan kian jadi minoritas di beberapa perguruan tinggi tersebut-- juga\ntak ada yang mengaku berminat melakukan riset untuk menjadi pakar khusus mengenai\ncengkeh di masa depan.<\/p>\n\n\n\n Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman perdagangan atau\ntanaman industri lainnya \u2013terutama kayu dan selama beberapa tahun juga kelapa\nsawit dan kakao-- risetriset ekosistem, agronomi, dan biokimia tentang cengkeh\nnyaris tak pernah terdengar, termasuk riset pengembangan produk olahan dari bahan\nbaku cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Padahal, misalnya, kebutuhan zat eugenol dari cengkeh --sebagai\nbahan baku untuk pengobatan dan penahan rasa sakit-- sebagian besarnya masih\ndiimpor. Bahkan, cengkehnya itu sendiri, sampai sekarang pun, sebagiannya masih\ntetap diimpor.<\/p>\n\n\n\n Lebih ironis lagi adalah fakta bahwa hampir semua pemerintah\ndaerah penghasil cengkeh utama cenderung semakin mempersempit ruang hidup\ntanaman yang justru pernah mengharumkan nama daerah mereka. Dengan satu\nperkecualiaan di Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa sebagai penghasil\ncengkeh terbesar sejak beberapa tahun terakhir, luas lahan tanaman cengkeh\nsemakin terancam oleh konsesi-konsesi besar baru pertambangan dan perkebunan\nbesar kelapa sawit, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara,\ndan Maluku.<\/p>\n\n\n\n Peneliti hukum dan sejarah Maluku Utara[2]<\/a>\nbahkan dengan tegas mengakui bahwa pemerintah daerahnya belum pernah\nmengeluarkan satu peraturan daerah pun, khusus untuk perlindungan dan\npelestarian tanaman cengkeh. Selain melupakan sejarah masa lalu, pemerintah di\ndaerah-daerah tersebut tak tergerak oleh fakta bahwa ratusan ribu warga mereka,\npara petani lokal, sampai sekarang pun masih sangat bergantung kehidupan dan\nkesejahteraannya dari cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Salah satu ungkapan populer yang ditemui di manamana pun di daerah itu adalah: \u201cAnak saya bisa jadi sarjana karena cengkeh...\u201d. Atau, seperti kata Pak Tua Yan Kulinog, salah seorang perintis pertama perkebunan cengkeh di pedalaman Minahasa: \u201cTahun 1977, hanya dengan 250 kilogram cengkeh, saya sudah membeli mobil Datsun, sedan pertama di daerah ini waktu itu....\u201d[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagi-lagi ironis. Tak banyak dari anak-anak yang dibesarkan oleh\nhasil tanaman cengkeh orangtua mereka itu yang akhirnya memilih untuk\nmelanggengkan usaha tani cengkeh. Sebagian besar mereka malah menjadi pegawai\nnegeri sipil, menjadi bagian dari mesin birokrasi yang justru makin tak akrab\ndan kian melupakan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Catatan-catatan dan gambar-gambar yang terangkum sepanjang buku\nini menegaskan semua ironi tersebut. Meskipun lebih merupakan sketsa-sketsa\nringkas --sesuatu yang disengaja untuk membuatnya lebih mudah dicerna oleh\nsemua kalangan-- tulisan-tulisan dan gambar-gambar itu menampilkan banyak hal\nyang mencengangkan, menghentak, kadang menggetarkan.<\/p>\n\n\n\n Tulisan-tulisan dan gambargambar itu merekam nuansa sejarah\nperkembangan cengkeh dalam beragam aspek dan dimensinya, menggugah kembali\nkesadaran kita tentang salah satu warisan alam kita yang sangat berharga. Agar\nkita tak terusan-terusan menjadi pecundang, tertulah serapah para leluhur: \u201cBak\npungguk merindukan bulan, punai di tangan dilepaskan\u201d!<\/p>\n\n\n\n Tulisan ini adalah kata pengantar yang ditulis oleh Roem\nTopatimasang dalam buku Ekspedisi Cengkeh<\/strong>
\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n
Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n
Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n
Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n
Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\nBaca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h2>\n\n\n\n
Baca: Nasib Cengkeh Tanpa Rokok Kretek<\/a><\/h2>\n\n\n\n
Baca: Menyelisik Ragam Manfaat Cengkeh<\/a><\/h2>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
\n\n\n\n